Gambar: Ilustrasi
Batam – Polemik dugaan penolakan pasien oleh seorang dokter di Klinik Kimia Farma Sekupang, Batam, terus memanas dan menyeret sejumlah figur publik di Kepulauan Riau.
Kali ini, komentar anggota DPRD Kepri, Yusrizal Bakhtiar, menjadi sorotan usai terlibat adu argumen di media sosial dengan akun Facebook milik Ismail James, yang merupakan mantan Ajudan Gubernur Kepri Kamis (28/5/2026).
Perdebatan bermula dari unggahan akun Facebook @Ismail James yang menyoroti kasus dokter viral tersebut. Dalam kolom komentar, Yusrizal Bakhtiar yang merupakan anggota DPRD Kepulauan Riau dari Komisi III ikut memberikan tanggapan.
Dalam komentarnya, Yusrizal meminta masyarakat tidak terburu-buru menghakimi dokter sebelum ada hasil investigasi resmi dari pihak Kimia Farma.
“Sebaiknya cek dan recheck masalah yg terjadi spy tdk salah dlm membuat status apalagi menyinggung dokter yg berasal dari manusia seolah2 dr ybs dari binatang, sy kira tdk ada 1 org dr pun yg ingin menelantarkan pasiennya krn kami sdh disumpah tp ada aturan yg hrs dipatuhi. Kita tunggu aja investigasi internal KF apakah ybs salah atau tdk,” tulis Yusrizal.
Ia juga menilai masyarakat terlalu cepat menghakimi hanya berdasarkan satu video yang viral di media sosial.
“Ismail James hanya krn pelayanan 1 pasien yg mnrt kau keterlaluan, kau sama kan dr dgn binatang, kau ejek dia mau nonton bioskop padahal dia sdh melayani mgkn ribuan pasien tanpa cela. Kadang disini sy merasa sedih. Terlalu mudah menghakimi hanya krn 1 kasus yg mgkn blm tentu benar krn video yg kau tonton tdk menggambarkan seluruh proses mulai dari kedatangan pasien. Kami jg berhak tdk melayani ketika pasien tdk memperlakukan dr dgn baik,” lanjutnya.
Komentar tersebut kemudian menuai sorotan publik. Awak media pun meminta klarifikasi langsung kepada Yusrizal terkait posisinya sebagai anggota DPRD Kepri.
Saat ditanya mengenai fungsi pengawasan DPRD terhadap persoalan pelayanan kesehatan, Yusrizal menegaskan dirinya hanya berkomentar sebagai pribadi di media sosial dan tidak membawa kapasitas kelembagaan DPRD.
“Klo pertanyaan spt ini baru komisi yg membidangi, sy tdk etis bicara pengawasan krn ada komisi 4,” ujarnya.
Ia juga menegaskan dirinya tidak sedang membela profesi tertentu, melainkan merespons kalimat yang dianggap menyinggung profesi dokter.
“Maaf saya bukan membela profesi tertentu. Sy bicara begitu krn yg bersangkutan menyamakan sejawat sy dgn binatang,” tambahnya.
Namun polemik tidak berhenti di situ. Sejumlah pertanyaan lanjutan kembali diajukan kepada Yusrizal terkait sikapnya yang dinilai defensif di tengah keluhan masyarakat soal dugaan penolakan pasien.
Menjawab hal tersebut, Yusrizal kembali menegaskan bahwa komentarnya murni sebagai respons pribadi di media sosial.
“Sy hanya berkomentar di medsos tanpa melibatkan fungsi pengawasan DPRD,” katanya.
Ia juga mengaku spontan merespons karena tersinggung dengan narasi yang dianggap menghina dokter.
“Sy tdk membela profesi tertentu tp ketika ada bahasa spt ini ‘Cari lah dr yg asal usul nya dari manusia’ sy reflek merespon,” jelasnya.
Meski demikian, Yusrizal mengaku akan menyampaikan persoalan tersebut kepada rekan-rekannya di Komisi IV DPRD Kepri yang membidangi kesehatan.
“Sy akan sampaikan dgn kawan-kawan di Komisi 4,” ujarnya.
Ia pun membantah tudingan bahwa dirinya tidak memiliki empati terhadap keluarga pasien.
“Sekali lg awalnya sy hanya merespons postingan tanpa bermaksud defensif atau tdk berempati kpd keluarga korban,” tuturnya.
Di akhir klarifikasinya, Yusrizal menegaskan dirinya hanya mencoba meluruskan persoalan sambil menunggu hasil investigasi internal dari pihak Kimia Farma.
“Sbg masyarakat salah kah ketika mencoba meluruskan masalah yg terjadi? Sy sampaikan tunggu investigasi dari internal KF,” pungkasnya.
Kasus dugaan penolakan pasien di Klinik Kimia Farma Sekupang sendiri hingga kini masih menjadi perhatian publik dan ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak pihak mendesak adanya evaluasi terhadap SOP pelayanan kesehatan, khususnya layanan malam dan penanganan pasien dalam kondisi darurat.