Batam – Polemik penolakan pasien anak di Klinik Kimia Farma Sekupang, Kota Batam, terus memanas setelah beredarnya klarifikasi dari akun sosial diduga milik seorang dokter yang terlibat dalam insiden viral tersebut, Rabu 27 Mei 2026.
Dalam unggahan akun Threads bernama ecysinagaa, dokter tersebut menjelaskan
orang tua pasien langsung ngegas, ngamuk-ngamuk, bentak-bentak dan ngak sopan, jadi saya tolak periksa anaknya tulis akun Tersebut.
lanjut isi klarifikasi itu,
Bahkan dalam unggahan tersebut juga terdapat kalimat yang menuai sorotan warganet.
“Kalau mau ditolong ngomonglah baik-baik, kita ini nakes bukan pembantu/budak,” tulis akun tersebut.
Unggahan itu kemudian viral dan memunculkan beragam reaksi publik, Tidak sedikit warganet yang mempertanyakan sikap tenaga medis dalam menangani pasien, terlebih pasien anak yang disebut dalam kondisi muntah-muntah.
Menanggapi klarifikasi tersebut, pihak keluarga pasien akhirnya memberikan bantahan ibu dari anak yang sakit saat kejadian, membantah bahwa dirinya maupun sang suami melakukan tindakan membentak dokter sejak awal masuk ke ruang pelayanan.
“Kami bukan bentak-bentak, mungkin nada bicara memang tinggi karena panik dan kecewa anak sudah sakit tapi malah ditolak. Anak saya muntah-muntah,” ujar Fitri Anty saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.
Fitri menjelaskan, dirinya bersama suami datang ke klinik karena melihat dokter masih berada di dalam ruangan dan merasa waktu pelayanan masih memungkinkan.
Ia menyebut berdasarkan rekaman CCTV, mereka tiba sekitar pukul 20.45 WIB.
“Saya masuk duluan sambil gendong bayi, suami masih di belakang. Saya lihat dokter lagi duduk pegang handphone.
Tapi sebelum saya sempat bicara, dokter duluan bilang ‘nggak bisa lagi, komputer sudah mati’,” ungkapnya.
Menurut Fitri, dirinya sempat terdiam karena syok mendengar jawaban tersebut. Situasi kemudian memanas setelah dokter kembali mengajukan pertanyaan yang menurut mereka kurang tepat disampaikan kepada orang tua pasien yang sedang panik.
“Dokter bilang, ‘kenapa datang malam-malam?’ lalu bertanya lagi ‘kenapa sakit jam segini?’ Di situ kami emosi karena anak lagi muntah-muntah,” katanya.
Fitri juga membantah tudingan bahwa suaminya langsung mengamuk tanpa sebab. Menurutnya, suaminya hanya menjawab dengan nada tinggi karena merasa pertanyaan tersebut menyudutkan.
“Suami saya cuma jawab, ‘emang sakit bisa diatur jamnya ya dok?’ mungkin itu yang dianggap bentak oleh dokter,” jelasnya.
Ia juga mengatakan suaminya sempat meminta agar anak mereka setidaknya diberi obat meski tanpa pemeriksaan lengkap.
“Suami saya bilang, ‘cuma kasih obat aja dok, nggak usah diperiksa’, tapi dokter tetap bilang tidak bisa,” tambahnya.
Karena merasa kecewa dan khawatir terhadap kondisi anaknya, sang suami kemudian merekam situasi tersebut menggunakan telepon genggam hingga akhirnya viral di media sosial.
Fitri menegaskan bahwa rekaman CCTV disebut dapat memperlihatkan situasi sebenarnya saat mereka datang ke klinik.
“Lebih real itu di CCTV,” tegasnya.
Kasus ini kini menjadi perhatian luas masyarakat Batam dan memicu perdebatan mengenai pelayanan kesehatan, etika komunikasi tenaga medis, hingga hak pasien untuk mendapatkan penanganan, terutama dalam kondisi darurat terhadap anak. ( Red)