Hampir 48 Jam Tanjung Uban Gelap, Tokoh Pemuda Desak PLN Segera Pulihkan Listrik dan Beri Kompensasi
BINTAN UTARA, Jaringanbintanginfo.com– Pemadaman listrik berkepanjangan yang melanda wilayah Kepulauan Riau, khususnya Pulau Batam dan Pulau Bintan, menuai kritik dari kalangan masyarakat. Hingga Selasa malam (13/10/2026), warga Tanjung Uban masih mengeluhkan belum pulihnya pasokan listrik setelah gangguan yang terjadi pada Senin pagi (12/10/2026).
Tokoh pemuda asal Tanjung Uban, Adi Agus Setiawan, mendesak PT PLN agar segera menuntaskan persoalan tersebut. Ia menilai pemadaman berkepanjangan telah mengganggu kehidupan masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga akses komunikasi.
“Kami warga Kepri yang berdomisili di Pulau Bintan, khususnya Tanjung Uban, sampai saat ini belum mendapatkan aliran listrik sejak adanya pemadaman secara tiba-tiba pada Senin pagi kemarin,” ujar Adi.
Ia juga menyayangkan minimnya penjelasan terperinci yang diterima masyarakat mengenai penyebab gangguan dan kepastian pemulihan pasokan listrik.
Menurut Adi, sejumlah lokasi di Kota Batam dan Tanjungpinang mulai kembali mendapatkan aliran listrik meskipun dilakukan secara bergilir. Namun, ia mempertanyakan mengapa masyarakat Tanjung Uban masih mengalami pemadaman dalam waktu yang begitu lama.
“Kami melihat beberapa lokasi di Batam dan Tanjungpinang sudah mulai teraliri listrik, walaupun secara bergilir. Kenapa di Tanjung Uban belum ada aliran listrik? Sudah hampir 48 jam,” katanya.
Air Bersih, BBM, dan Aktivitas Ekonomi Terdampak
Adi menegaskan, dampak pemadaman listrik tidak hanya dirasakan dalam urusan penerangan rumah tangga. Gangguan tersebut turut memengaruhi ketersediaan air bersih, akses terhadap kebutuhan sehari-hari, serta aktivitas ekonomi masyarakat.
Ia menyoroti warga yang kesulitan memperoleh air bersih dan penerangan, ditambah antrean panjang untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM).
“Bisa kita lihat sejak Senin sampai malam ini, berapa banyak masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih dan bahan penerangan, belum lagi antrean BBM yang sangat panjang,” ungkapnya.
Menurut Adi, situasi tersebut semakin memberatkan masyarakat karena kebutuhan dasar yang biasanya dapat dipenuhi dengan mudah kini menjadi persoalan tersendiri.
Pemadaman juga disebut berdampak pada kelancaran lalu lintas dan aktivitas warga. Kondisi tersebut, menurutnya, membutuhkan penanganan cepat serta informasi yang jelas dari pihak terkait agar masyarakat tidak terus berada dalam ketidakpastian.
Komunikasi Terganggu, Industri Seri Kuala Lobam Terancam Terhambat
Mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu turut menyoroti terganggunya akses komunikasi selama pemadaman berlangsung.
Menurutnya, keterbatasan komunikasi dapat menghambat koordinasi pekerjaan, kegiatan usaha, dan produktivitas masyarakat. Dampak tersebut menjadi perhatian khusus mengingat kawasan Seri Kuala Lobam merupakan salah satu wilayah kegiatan industri di Kabupaten Bintan.
“Belum lagi komunikasi kita juga sangat terhambat. Bayangkan berapa banyak jadwal pekerjaan yang terkendala akibat tidak adanya komunikasi. Bagaimana dampaknya terhadap dunia padat karya yang berada di wilayah Seri Kuala Lobam?” ujarnya.
Ia meminta PLN segera memberikan penjelasan mengenai langkah pemulihan, termasuk perkembangan penanganan gangguan dan perkiraan waktu normalisasi listrik di Tanjung Uban.
Desak Kompensasi dan Evaluasi PLN
Selain mendesak pemulihan listrik, Adi juga meminta adanya kompensasi materiil bagi masyarakat Tanjung Uban yang terdampak pemadaman berkepanjangan.
Menurutnya, kerugian yang dialami warga perlu menjadi perhatian serius. Ia meminta PLN menjelaskan mekanisme kompensasi, persyaratan, serta bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap pelanggan yang memenuhi ketentuan.
Adi bahkan menyampaikan kritik keras terhadap pimpinan unit pelayanan PLN di Tanjung Uban apabila persoalan tersebut tidak segera ditangani secara bertahap dan disertai kepastian kepada masyarakat.
“Jika kepala UPTD PLN Tanjung Uban tidak bisa menyelesaikan persoalan pemadaman ini dan memulihkan listrik secara bertahap, lebih baik mundur sebelum warga turun langsung ke lapangan,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi bentuk kekecewaan atas kondisi yang dirasakan warga. Meski demikian, tuntutan utama masyarakat adalah pemulihan listrik secepatnya, penjelasan yang transparan, serta kejelasan mengenai kompensasi atas dampak yang ditimbulkan.
PLN Perlu Berikan Kepastian kepada Masyarakat
Pemadaman berkepanjangan ini menempatkan PLN pada tuntutan untuk menyampaikan informasi yang akurat mengenai penyebab gangguan, progres pemulihan, dan langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang.
Masyarakat membutuhkan kepastian, bukan sekadar informasi umum bahwa pemulihan sedang dilakukan. Terlebih, listrik merupakan kebutuhan dasar yang menopang rumah tangga, layanan publik, komunikasi, dan kegiatan ekonomi.
Hingga berita ini disusun, keterangan resmi terbaru dari PLN mengenai kondisi khusus pasokan listrik di Tanjung Uban, perkiraan waktu normalisasi, serta tanggapan atas tuntutan kompensasi masih perlu dikonfirmasi.
