
Agam, jaringanbintanginfo.com – Sabtu, 17 Januari 2026.Pantauan awak media di lokasi bencana Galodo Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, salah satu unit alat berat dilaporkan telah ditarik dari lokasi bencana.
Penarikan alat berat tersebut diduga dilakukan dengan alasan masa tanggap darurat telah berakhir.Berdasarkan keterangan warga setempat, satu unit alat berat yang sebelumnya beroperasi di kawasan Saweh Laweh telah meninggalkan lokasi pada hari ini.
Warga menyebutkan penarikan dilakukan karena status tanggap darurat dinyatakan selesai. Saat ini, hanya tersisa satu unit alat berat di lokasi, itupun dalam kondisi rusak dan tidak dapat beroperasi secara maksimal.
Alat berat dari Saweh Laweh sudah berangkat hari ini, katanya karena tanggap darurat sudah habis. Tinggal satu mesin lagi, tapi kondisinya rusak,” ujar salah seorang warga Salareh Aia kepada awak media.
Baca Juga BBM Alat Berat Pasca Galodo di Salareh Aia Dipertanyakan, Warga Mengaku Patungan di Tengah Bencana
Untuk meluruskan informasi, perlu ditegaskan bahwa alat berat yang beroperasi di lokasi bencana tersebut merupakan alat berat milik PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI). Alat berat tersebut bukan merupakan aset langsung milik Dinas Pekerjaan Umum (PU), melainkan diduga beroperasi atas dasar penugasan atau kerja sama dalam penanganan darurat bencana.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi terkait dasar penugasan, durasi operasional, serta mekanisme pembiayaan alat berat tersebut.Warga menyayangkan penarikan alat berat tersebut, mengingat proses normalisasi pasca bencana dinilai belum tuntas.
Mulai dari aliran sungai hingga saluran air menuju lahan pertanian warga masih dipenuhi material lumpur, batu, dan kayu sisa bencana Galodo.“Normalisasi sungai belum selesai.
Aliran air ke sawah dan kebun kami masih terganggu. Kalau alat berat ditarik sekarang, kami tidak tahu kapan pekerjaan ini akan dilanjutkan,” keluh warga lainnya.
Ketidak jelasan kelanjutan penanganan pasca bencana ini menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Warga mengaku tidak mengetahui apakah nantinya akan kembali diturunkan alat berat untuk melanjutkan proses normalisasi sungai atau tidak.
Dalam kondisi ini, warga menilai peran Wali Nagari Salareh Aia sebagai perangkat pemerintahan terdekat dengan masyarakat seharusnya lebih aktif menyuarakan kebutuhan warga kepada instansi terkait.
Yang jadi pertanyaan kami, apakah kondisi seperti ini akan dibiarkan oleh wali nagari berlarut-larut?” tegas seorang warga.
Hingga berita ini diturunkan, awak media masih berupaya mengonfirmasi pihak Wali Nagari Salareh Aia, Dinas PU, serta pihak terkait lainnya untuk mendapatkan penjelasan resmi terkait penarikan alat berat HKI dan kepastian kelanjutan normalisasi sungai pasca bencana Galodo. Media ini juga membuka ruang hak jawab seluas-luasnya kepada seluruh pihak yang disebutkan dalam pemberitaan ini.
editor:Redaksi
Reporter:DHY

