
Bintan,Media Jaringanbintanginfo.com 19 April 2026 — Nama Albert Januarta kian bersinar di kancah internasional. Atlet biliar muda kelahiran Bintan, 1 Januari 2009 ini berhasil mengharumkan nama Kabupaten Bintan dan Provinsi Kepulauan Riau melalui berbagai prestasi bergengsi dunia.
Sejumlah gelar telah diraih Albert, di antaranya juara Indonesia Junior International Open, Hanoi Junior Open, serta pencapaian terbarunya di ajang Pro Billiard Series Las Vegas 2026. Prestasi tersebut membuatnya diperhitungkan di level internasional dan mendapat pengakuan dunia sebagai salah satu atlet muda potensial.
BACA JUGA Kapal Tenggiri Terseret Skandal BBM Subsidi: Jerigen Marak, Izin Kedaluwarsa, DPRD Desak Sanksi Tegas
Namun, di balik gemilangnya karier tersebut, perhatian dari pemerintah daerah dinilai masih sangat minim. Ahuat, yang merupakan pelatih sekaligus orang tua Albert, mengungkapkan kekecewaannya terhadap kurangnya dukungan dari Pemerintah Kabupaten Bintan maupun Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.
“Albert membawa nama besar Bintan ke dunia, tetapi suport tidak ada. Untuk minta surat saja kadang susah,” ujar Ahuat.
Ia menjelaskan, selama ini hampir seluruh biaya keberangkatan dan kebutuhan pertandingan internasional ditanggung secara mandiri. Meski demikian, hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya dalam mendukung karier sang anak.
“Setiap pertandingan di negara lain, saya selalu suport meski dengan biaya sendiri. Anak saya punya kualitas dan talenta yang ingin saya kembangkan. Sekarang dunia sudah mengenalnya sebagai pemain biliar,” tambahnya.
Ahuat juga menyoroti minimnya perhatian dari pemerintah, KONI, maupun organisasi terkait seperti POBSI yang dikhawatirkan dapat menghambat regenerasi atlet biliar di daerah.
“Saya takutnya nanti putus regenerasi biliar. Kami sudah susah payah mengembangkan sampai ke tingkat dunia, jangan sampai gagal di tengah jalan,” tegasnya.
Di tengah keterbatasan dukungan, Albert disebut sempat mendapat tawaran besar dari sejumlah provinsi lain untuk mewakili mereka di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON), dengan nilai mencapai Rp1,5 miliar. Namun, tawaran tersebut ditolak demi tetap membawa nama daerah asalnya.
“Datang tawaran untuk memakai nama provinsi lain di PON, nilainya besar, tetapi kami menolak. Kami tetap memilih Bintan dan Kepri yang kami cintai,” ungkap Ahuat.
Meski begitu, kondisi saat ini membuat pihak keluarga mempertimbangkan kembali partisipasi Albert di ajang PON mendatang apabila tidak ada perubahan dukungan dari pemerintah.
“Kalau begini terus, untuk apa ikut PON. Lebih baik anak saya berkembang di luar negeri. Percuma bawa nama Bintan dan Kepri kalau perhatian minim. Bahkan karangan bunga saja harus kami minta, bukan inisiatif mereka,” katanya.
Dalam waktu dekat, Albert Januarta dijadwalkan akan mengikuti turnamen UK Open di London, Inggris. Harapan pun disampaikan agar pemerintah dan pihak terkait dapat memberikan perhatian serta dukungan nyata terhadap atlet berprestasi yang telah membawa nama daerah ke panggung dunia.
Kisah ini menjadi potret miris, ketika atlet berkelas internasional justru kurang mendapat apresiasi di daerahnya sendiri.(Red)
Editor: Redaksi
Reporter: Hariadi


