
Natuna, – Selogan Bupati Baru Natuna Maju sepertinya belum tepat dialamatkan kepada dua pemimpin Natuna Cen Sui Lan – Jarmin Sidik. Pasalnya satu tahun memimpin, ekonomi Natuna mengalami keterpurukan jauh dari kata sehat.
Sejumlah daerah di Provinsi Kepulauan Riau mencatat pertumbuhan ekonominya cukup menggembirakan sepanjang tahun 2025, Kabupaten Natuna justru menghadapi situasi berbanding terbalik.
BACA JUGA
Daerah selama ini dikenal kaya sumber daya alam tersebut mengalami kontraksi ekonomi sebesar -1,61 persen, menjadi satu-satunya wilayah di Kepri yang pertumbuhan ekonominya berada di zona negatif.Data Badan Pusat Statistik menunjukkan kontras cukup tajam antara Natuna dengan daerah lain di provinsi yang sama.
Kota Batam bahkan mencatat pertumbuhan ekonomi tanpa migas tertinggi, yakni 6,76 persen, disusul Kabupaten Bintan 6,43 persen, Kabupaten Karimun 5,44 persen, Kabupaten Lingga 3,53 persen, Kota Tanjungpinang 3,31 persen, dan Kabupaten Kepulauan Anambas 2,87 persen dan Natuna-1,61 Persen.Di tengah deretan angka positif tersebut, Natuna justru tergelincir ke bawah garis nol.
Kontraksi ini memunculkan berbagai pertanyaan tentang arah dan ketahanan ekonomi Natuna yang selama ini banyak bergantung pada sektor-sektor tertentu, terutama energi dan sumber daya alam.
Ketergantungan terhadap sektor yang rentan terhadap fluktuasi global membuat ekonomi daerah ini mudah terpengaruh oleh perubahan harga komoditas maupun dinamika produksi.
Bagi sebagian pengamat ekonomi daerah, kondisi ini menjadi alarm bahwa struktur ekonomi Natuna belum cukup kuat untuk menopang pertumbuhan stabil.Berbeda dengan Batam yang ekonominya ditopang industri manufaktur, perdagangan internasional, dan jasa logistik, aktivitas ekonomi Natuna masih terbatas pada sektor-sektor primer.
Ketika sektor tersebut mengalami penurunan, dampaknya langsung terasa terhadap keseluruhan perekonomian daerah.Kontraksi -1,61 persen juga menggambarkan bahwa aktivitas ekonomi di Natuna belum mampu menciptakan diversifikasi memadai.
Sektor industri pengolahan, perdagangan besar, maupun investasi skala besar masih relatif terbatas dibandingkan daerah lain di Kepulauan Riau.Padahal secara geografis, Natuna memiliki potensi strategis sebagai wilayah perbatasan sekaligus pintu gerbang Indonesia di Laut Natuna Utara.
Potensi perikanan, energi, serta posisi geopolitik seharusnya dapat menjadi motor penggerak ekonomi baru jika dikelola secara optimal.
Namun hingga kini, potensi tersebut belum sepenuhnya terkonversi menjadi pertumbuhan ekonomi yang stabil.Sementara itu, daerah lain di Kepri terus melaju dengan model ekonomi yang lebih beragam.
Batam, misalnya, berhasil membangun ekosistem industri dan investasi yang kuat sehingga mampu mempertahankan pertumbuhan tinggi meskipun tanpa mengandalkan sektor minyak dan gas.Perbandingan ini memperlihatkan kesenjangan struktur ekonomi antarwilayah di provinsi yang sama.
Bagi Natuna, kondisi ini dapat menjadi momentum refleksi sekaligus peringatan bahwa ketahanan ekonomi daerah perlu diperkuat melalui diversifikasi sektor, peningkatan investasi, serta pembangunan infrastruktur yang mampu membuka akses ekonomi baru bagi masyarakat.
Tanpa langkah strategis yang serius, Natuna berisiko semakin tertinggal di tengah laju pertumbuhan ekonomi daerah lain di Kepulauan Riau terus bergerak maju.(Tim/Rls)
EDITOR: Redaksi
Reporter: HRS


