
Batam,Media Jaringanbintanginfo.com – Keluhan krisis air bersih kembali mencuat di wilayah Tanjung Sengkuang dan Batu Merah, Kecamatan Batu Ampar, Minggu (15/2/2026). Sejumlah warga di beberapa RT/RW mengaku hingga hari ini suplai air belum juga normal, meski berbagai alasan perbaikan dan distribusi air tangki terus disampaikan pihak pengelola.
BACA JUGA Rokok Ilegal Merajalela, Hukum Tajam ke UMKM Second, Tumpul ke Perdagangan Besar?
Berdasarkan informasi yang dihimpun awak media, warga menyebut suplai air tangki yang dijanjikan tidak mencukupi kebutuhan harian. Bahkan, pemesanan yang dilakukan sejak pagi hari kerap tak kunjung terealisasi hingga dini hari keesokan harinya.
Diorder 15 tangki, yang datang hanya 8. Pesan dari pagi, sampai jam 3 subuh belum juga datang,” ujar salah satu warga dengan nada kesal.
BACA JUGA PL Dekat Hutan Lindung Sei Beduk Disorot, Aktivis Minta Evaluasi BP Batam dan Pemko
Kondisi ini memicu pertanyaan serius terhadap tanggung jawab operator air, yakni PT Air Batam Hilir (ABH), serta regulator pengelolaan air di Batam, BP Batam. Warga menilai alasan klasik seperti perbaikan jaringan, keterbatasan air waduk, maupun distribusi air tangki tak lagi relevan jika krisis terus berulang tanpa solusi konkret.
“Jangan berlindung di balik alasan perbaikan. Jangan juga berdalih air waduk tidak cukup atau suplai tangki sudah jalan. Faktanya, kami tetap tidak dapat air,” tegas warga lainnya.
Air bersih merupakan kebutuhan vital dan hak dasar masyarakat. Warga menilai, sebagai pelanggan resmi yang telah memasang meteran, membeli pipa sambungan, serta rutin membayar tagihan, mereka berhak atas layanan yang layak dan berkelanjutan.
“Kami pasang meteran itu bukan gratis. Beli pipa sambungan juga bayar. Kalau tidak bisa digunakan, buat apa? Kami telat bayar kena denda, bahkan meteran bisa dicabut. Kalau mau pasang lagi, bayar lagi dengan alasan kerugian ABH. Lalu kerugian kami sebagai masyarakat bagaimana?” keluh seorang ibu rumah tangga.
Kekecewaan warga semakin dalam karena persoalan ini bukan pertama kali terjadi. Setiap gangguan disebut selalu diikuti pengamanan distribusi air tangki di lapangan, namun persoalan pokok distribusi air melalui jaringan utama tak kunjung tuntas.
Masyarakat mendesak transparansi dari ABH dan BP Batam terkait:
1.Penyebab pasti gangguan yang berulang.
2.Estimasi waktu pemulihan yang jelas dan terukur.
3.Data ketersediaan air waduk secara terbuka.
4.Mekanisme kompensasi bagi pelanggan terdampak.
Jika kondisi ini terus berlarut, warga tidak menutup kemungkinan akan menyuarakan aspirasi secara lebih luas. “Kami hanya ingin hak dasar kami dipenuhi. Air bersih bukan kemewahan, ini kebutuhan hidup,” tegas warga.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak ABH dan BP Batam belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan terbaru warga Tanjung Sengkuang dan Batu Merah.(red)
Editor: Redaksi
Reporter: HRS

